Apakah Ada Perbedaan Antara Guru dan Dosen

Di beberapa harian pada hari belakangan ini dimuat akan dikeluarkan-nya UU tentang guru dan dosen. Permasalahannya adalah apa UU tersebut harus memuat tentang guru dan dosen. Pertanyaan yang timbul pada saya adalah: apakah antara guru dan dosen itu ada perbedaan. Kalau ada perbeda-an apa cukup dengan satu UU tentang guru dan dosen, kalau tiada perbedaan apakah perlu diadakan dua UU?

Mari kita analisis arti seorang guru? Kalau seorang ingin menjadi guru biasanya sudah sejak muda memang ingin menjadi guru, maka mereka melanjutkan pelajarannya ke Sekolah Pendidikan Guru. Setelah selesai pendidikannya maka seharusnya mereka ditempatkan sebagai guru di salah satu sekolah dasar, sekolah menengah atau sekolah menengah tinggi. Pada umumnya para calon guru mendapat ilmu pengetahuan yang dinamakannya ilmu dasar seperti ilmu hitung, ilmu fisika, ilmu kimia, ilmu bahasa, ilmu sejarah, ilmu bumi dan sebagainya. Jadi seorang guru yang dalam bahasa Inggris dinamakan teacher, dalam bahasa Belanda disebut onderwijzer mendidik seorang murid yang dalam bahasa Inggris dinamakan pupils, dalam bahasa Belanda disebut leerling. Hubungan guru dan murid selama 6 sampai 7 tahun dapat menumbuhkan hubungan emosional. Jadi hubungan guru dan murid adalah sebagai orang tua dengan anaknya. Selain mengajar ilmu-ilmu dasar seperti ilmu hitung, bahasa, sejarah, ilmu bumi, menulis baik dan sebagainya, maka seorang guru mengajar juga budi pekerti, tata krama hidup sosial. Jadi visi seorang guru ingin menjadikan anak didiknya menjadi orang yang berguna di masyarakat, syukur bisa menlanjutkannya menambah ilmu ke universitas.

Bagaimana dengan seorang dosen. Dosen dalam bahasa Inggris nama-nya lecturer, yang artinya pembaca. Dalam bahasa Belanda namanya docent artinya peramu atau kata benda yang dibentuk dari kata kerja doceren yang artinya meramu. Sedangkan yang diajak meramu bukan seorang murid, tetapi mahasiswa, atau siswa besar, dalam bahasa Inggris atau Belanda namanya student. Student adalah kata benda yang dibentuk dari kata kerja bahasa Inggris study atau bahasa Belanda studeren. Kata kerja ini dalam bahasa Indonesia artinya belajar sendiri. Jadi tugas seorang dosen pada dasarnya lain dibandingkan dengan tugas seorang guru. Dosen hanya meramu ilmu dan mahasiswa mempelajarinya apa yang dibacakan atau dikuliahkan oleh dosen untuk kepentingan hidup selanjutnya. Bisa juga terjadi hubungan emosi antara dosen dan mahasiswa. Tetapi dibandingkan antara guru dan murid maka hubungan emosi banyak terjadi antara guru dan murid. Seorang dosen tidak pernah belajar menjadi dosen. Mereka adalah para profesional dan akademisi yang dipanggil oleh senat universitas untuk mengembangkan ilmu yang dikuasainya di universitas tersebut. Jadi sebelum menjadi dosen mereka adalah seorang profesional di bidangnya dengan kompetensi tertentu. Pada umumnya mereka telah banyak makan asam garam dalam dunia profesinya dan banyak publikasinya. Jadi dengan demikian dari universitas harus tumbuh dan berkembang suatu ilmu. Di Indonesia agak lain. Banyak dosen yang tidak berpengalaman di bidangnya yang diajarkan, karena mereka dicangkok dari fakultasnya tanpa mempunyai pengalaman kerja profesional dan kompetensi langsung mengajar di fakultasnya. Dosen-dosen ini menimbulkan suasana inbreeding dan tidak bisa mengembangkan ilmunya, tidak ada penelitian sehingga ilmunya tidak berkembang, karena apa yang didapat dari dosennya dahulu diajarkan kepada mahasiswanya lagi. Tidak jarang saya menemui seorang dosen teknik yang belum pernah kerja di industri, tetapi berani mengajar teknik manufaktur. Ilmu teknik manufaktur didapatkan dari masa ia belajar di fakultasnya. Bahkan bisa terjadi bahwa dosen yang mengajar motor pembakaran belum pernah membongkar motor. Atau dosen ilmu hukum yang belum pernah menjadi pengacara. Atau dosen ilmu manejemen yang belum pernah jadi menejer. Seyogyanya seorang dosen harus mengajarkan ilmu yang pernah dikerjakan. Kalau dosen tersebut diangkat menjadi guru besar atau profesor maka sudah merupakan kewajibannya yang bersangkutan harus membimbing atau menjadi promotor seorang calon doktor. Seyogyanya seorang profesor setelah 2 (dua) tahun diangkat tidak dapat menghasilkan seorang doktor atau mempublikasikan hasil penelitiannya secara kesatria ia harus mengembalikan jabatan profesornya kepada senat guru besar lagi. Karena ia tidak mampu mengembangkan ilmunya. Akhirnya seorang profesor yang tidak dapat menjadi promotor doktor kualitasnya tidak jauh dari “gelar profesor” yang bisa dibeli beberapa juta rupiah.

Dari uraian saya ini, maka secara pribadi saya berpendapat UU Guru harus dipisahkan dari UU Dosen.

Penulis adalah Guru Besar
FTUI Departemen Mesin

About these ads

0 Responses to “Apakah Ada Perbedaan Antara Guru dan Dosen”



  1. Leave a Comment

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s





Follow

Get every new post delivered to your Inbox.

%d bloggers like this: