Nakoela Semangat

Nakoela Semangat

Without any words…

Huge of Spirit…

 

ICH WEISS ES NICHT WAS EIN STUHL IST

ICH WEISS ES NICHT WAS EIN STUHL IST

Oleh: Nakoela Soenarta

(suatu fiction)           

Auf einen Morgen fuehlt sich Frau Magda Steinhilper Bauchschmerzen beim Aufstehen. Sie sagt es zu ihrem Man: “Christoph ich habe Bauchschmerzen, hast Du Zeit mich zum Arzt fahren? Anders wird es schlimmer, als es zu spaet ist.”. Der Mann antwortet: “Machts Du denn fertig, ich fahre Dich bald zum Arzt.” Nicht lang danach sind das Ehepaar schon im Wagen und fahren zum Dokter Fritz Waldorf. Als sie beim Azrt ankommen, muessen sie noch eine halbe Stunde warten. Die Krankenschwester sagt: “Warten Sie bitte eine halbe Stunde. Die Sprechzeit fangt erst um 9.00 Uhr an.” “Wir werden warten” antwortet der Herr Waldorf.

            Genau um.9.00 Uhr wird das Ehepaar gebeten in dem Praxiszimmer des Dokters  einzutreten. Der Dokter sagt: “Was kann ich Ihnen helfen.”. Frau Magda Steinhilper sagt: “Dokter ich habe Bauchschmerzen beim Aufstehen heute Morgen.” Der Arzt fragt weiter: “Vielleicht bekommen Sie gleich Ihr monatlichem Besuch.”. Ihr Antwort ist: “Nein Dokter ich habe schon vorige Woche Besuch gehabt.” Sein Antwort: “Ach so! Dann werde ich Sie untersuchen, bitte ziehen Sie Ihre Blouse aus. Ach soweit ist genug. Ich werde nur Innern Ihrer Bauch horen, was da gesehen ist.” Eine Weile tastet der Arzt mit seinem Stethoskop ihr Bauch entlang. “Frau Steinhilper ich habe ein Revolution in Ihr Bauch gehoert” Was haben Sie gegessen. Haben Sie indonesische Mahlzeit gehabt, mit den heizen Gewuerzen, aber das ist vieleicht nicht Ihre Gewohnheit, indonesische Mahlzeit zu geniessen.” “Ach was Dokter, ich bin ya schon gewoehnt mit dem indonesisch, chinesisch, thailaendisch Essen. Aber gestern Mittag war ich eingeladen worden von einem indonesische Gemeinde. Es wird sundanesisch Mahlzeit angeboden. Ach Dokter das war pico bello. Das schmeckt alles nach mehr. Die Sambal war heiz, aber herrlich. Alle Gemuesse waren beinahe raw. Vieleicht von der Sambal bekomme ich Bauchschmerzen.”  “Ya das ist die Sache, was nicht in Ordnung ist. Ich gebe Ihnen Medizine, und kommen Sie naechste Woche wieder, aber nehmen Sie Ihr Stuhl mit.” Frau Steinhilper antwortet: “Ich danke Ihnen und naechste Woche werde ich wieder da mit meinem Stuhl.

            Als das Ehepaar Steinhilper zu Hause sind, machen sie Krach ueber den Stuhl. Frau Magda Steinhilper sagt: “Du, Christoph, was machen wir jetz. Unsere Stuehle sind alle schon kaputt. Werden wir ein neuen Stuhl kaufen oder………” Christoph antwortet: “Was? Bist Du wahnzinnig ein neuen Stuhl zu kaufen um an den Dokter ein Paar Minuten lassen sehen? Ich bin nicht mit einverstanden. Lassen wir bei den Nachbaren leihen oder mieten”. Frau Magda sagt weiter:”Das ist ein gutes Vorschlag. Ich werde bei Frau Helga Schmitt leihen.Am Mittwoch der naechste Woche gehen das Ehepaar mit dem Stuhl der Frau Helga Schmitt zum Dokter. Sie kommen genau um 9.00 Uhr. Der Dokter lasst die Gaeste im Praxiszimmer eintreten. Und der Dokter fragt: “Willkommen Sie, aber… wo ist der Stuhl.” Sie antworten: “Ist draussen, ich werde holen”. Da der Stuhl nicht schwer ist, kann Herr Steinhilper selber tragen. Als Herr Steinhilper wieder in Praxiszimmer ist, sagt der Dokter: “Aber Frau Steinhilper, das ist doch nicht Ihr Stuhl.” Sehr verschaemt sagt sie: “Jawohl Herr Dokter das ist nicht mein Stuhl, naechste Woche werde ich mein Stuhl mitnehmen.”. Sie verabschieden sich von dem Dokter und verlassen das Praxiszimmer und zugleich den Stuhl mitzunehmen.Unterwegs fragen sie sich ab: “Wieso weisst der Dokter dass der Stuhl nicht von uns ist”. “Ya sehr unverstandlich”.Der naechste Mittwoch nehmen sie ihre eigenen Stuhl mit, der schon kaputt ist. Als sie von dem Dokter eingeladen werden zum eintreten in dem Praxiszimmer, fragt der Dokter wo ihr Stuhl ist. Frau Magda Steinhilper antwortet feurig: “Jetz nehme ich mein eigenem Stuhl mit, ich werde zeichen”. Sie geht nach draussen und holt den Stuhl. Der Dokter wartet ruehig im Zimmer. Als sie wieder mit einem Stuhl kommt, sagt der Dokter: “Aber Frau Steinhilper, was ich mit dem Stuhl meine, ist nicht dieser Stuhl. Ich meine was Sie jedes Morgen im Toilette hinter lassen, das meine ich.” Frau Steinhilper antwortet firmly: “Ach Sie meinen meinem Stuhlgang. Sagen Sie doch deutlich, Herr Dokter.” Der Dokter anwortet: “Unter den Doktoren sagen wir nur akgekurzt Stuhl, wie Influenza sagen wir nur Flu und so weiter. Jetz wissen Sie schon was ich mit dem Stuhl meine und das ist Ihr Stuhlgang. Also kommen Sie naechste Mittwoch wieder. Hoffentlich wird es klappen.”Und was ist mit dem folgende Mittwoch gesehen? Der hollandische Spruch sagt: Een ezel stoot zich niet voor de tweede keer dezelfde steen, maar mensen wel. Der naechste Mittwoch kommen das Ehepaar mit einem Korb full mit Abfaelle der Frau Magda Steinhilper, die sie in eine Woche lang produziert.Als der Dokter sieht was Frau Magda Steinhilper mit nehmt und so viel sogar ist er erschrocken und sagt: “Aber Frau Steinhilper, das ist viel zu viel. Ich werde nur einem Messerpunkt nehmen und was uebrig ist, nehmen Sie wieder Heim mit.” Frau Magda Steinhilper antwortet: “Entschuldigen Sie mich bitte, ich bin dumm und verstehe ueberhaupt nicht, das Sie nur ein wenig noetig haben fuer das Labor. Also ich werde  das Korb mit den ganzen Inhalt mit nach Hause nehmen”.Zum Schluss verabschieden sich sie von dem Arzt. So ist das!!!    

Dasar pemikiran saya membuat ceritera ini agar kita semua kalau berbicara supaya jelas bagi teman yang diajak bicara. Karena kadang-kadang tiap kata bisa berarti dua pengertian. Misalnya bureaucration denotasinya baik, karena berati tertib administrasi, tetapi birokrasi konotasinya buruk, karena berbelit-belit. Issue itu denotasinya baik, karena suatu pernyataan, tetapi isu konotasinya buruk, karena membicarakan orang alias ngrasani bahasa Perancis sebelah timur Citanduy. Maka saya anjurkan brain-building, latihan dan latihan sebab:

Small minds talk about people

Mediocre minds talk about things

Evolving minds talk about ideals.

Falsafah Hindu

Falsafah Hindu

Oleh: Nakoela Soenarta         

Dalam percakapan sehari-hari, maka orang selalu berkata: Hati-hati terhadap yang masuk kedalam mulut Anda. Tetapi orang Hindhu justru menyatakan: Hati-hati terhadap apa yang keluar dari mulut Anda. Kalimat ini menjadi pemikiran saya, sehingga saya dalami dan filsafat Hindhu tersebut saya pelajari. Ternyata apa yang saya baca dalam bahasa Inggris tidak jauh dari apa yang saya tulis dalam doa saya:          

Watch your thoughts, they will be your words         

Watch your words, they will be your actions         

Watch your actions, they will be your habits         

Watch your habits, they will be your character         

Watch your character, they will be your fate.          

Jadi yang dimaksud hati-hati terhadap yang akan keluar dari mulut adalah kata-kata yang perlu dikendalikan. Memang kata-kata yang “tajam” dan menyakitan bisa membuat rusak komunikasi. Padahal menurut saya orang itu adalah salah satu unsur sosial yang tidak mungin hidup sendiri, tetapi harus berhubungan dengan orang lain. Pepatah Jawa yang menyatakan”tega larane, ora tega matine” adalah suatu kenyataan, bahwa bahwa kalau ditinggal mati akan merasa kehilangan sesuatu, baik itu lawan atau kawan. Bahkan pepatah tersebut bisa saya tambahkan : “dudu sanak dudu kadang yen mati melu kelangan”. Ini artinya kita hidup sebagai makhluk sosial. Salah sekali menurut saya kalau ada orang yang sesumbar, bahwa ia tidak tergantung dari orang lain. Ketahuilah orang mati tidak mencari kuburnya sendiri. Satu-satu-nya doa yang mujarab adalah: Tunjukkan saya kejalan yang Kau ridloi.

URUN REMBUG TENTANG KURIKULUM DASAR DAN UJIAN NASIONAL

URUN REMBUG TENTANG KURIKULUM DASAR DAN UJIAN NASIONAL

Oleh: Nakoela Soenarta

Pada salah satu alinea Pembukaan UUD-1945 tertulis mencerdaskan kehidupan bangsa. Kalau saya boleh menilai tulisan tersebut maka sangatlah bijak para pendiri Negara Kesatuan Republik Indonesia itu dapat menemukan kata “mencerdaskan” tersebut. Bagaimana tidak bijak? Dalam kata “cerdas” sudah mengandung secara implisit arti tidak bodoh. Jadi orang yang cerdas tentunya tidak akan bodoh. Lain dengan kata “pintar”. Pintar merupakan kata yang berhubungan dengan ilmu. Orang pintar belum tentu cerdas. Bahkan orang suku Jawa kadang mengatakan bahwa ada orang “pinter yang keblinger”. Artinya orang pinter jang tidak bisa memanfaatkan kepinterannya secara baik dan dalam arti positif. Tetapi orang yang cerdas tidak mungkin keblinger dan jelas tidak bodoh. Bahwa ia seorang yang pinter bisa saja, tetapi tidak keblinger. Untuk membuat orang cerdas dibutuhkan usaha standar secara umum, yaitu pendidikan yang dilakukan melalui mengikuti pelajaran di sekolah. Bermula dari Sekolah Dasar (Elementary School), Sekolah Menengah Pertama (Premairy High School) dan Sekolah Menengah Umum (Secondairy High School). Pemerintah Indonesia dalam hal ini diwakili oleh Departemen Pendidikan Nasional bertugas mencerdaskan bangsa Indonesia sesuai apa yang diamanahkan di Pembukaan UUD-1945. Dewasa ini Departemen Pendidikan Nasional bersikeras ingin mengadakan UJIAN NASIONAL yang mempunyai standard minimum yang sama bagi para lulusan pendidikan dasar. Saya pribadi setuju 100%, kalau tiap warga negara Indonesia yang berumur 17 tahun mempunyai standar pengetahuan yang sama dan teruji. Memang inilah cita-cita pendiri republik untuk mencerdaskan kehidupan bangsa. Saya setuju 100% itu sebagai tujuan yang akan dicapai, tetapi tidak setuju dengan tindakan memaksakan kehendak seperti pada semester yang lalu. Excess timbul karena ada kebocoran jawaban. Ada kepala sekolah yang memberikan jawabannya dibawah tangan, karena ingin siswanya banyak yang lulus. Protes terjadi dimana-mana. Wibawa Pemerintah menurun, karena UjianNasional seakan-akan dianggap sebagai “proyek” yang menghasilkan tambahan bagi para pelaksana. Izinkan saya menggambarkan keadaan pendidikan yang saya usulkan untuk membedakan pendidikan sekarang yang tidak jelas konsepnya, bahkan aburadul karena tambal sulam. Seyogyanya untuk pendidikan dasar dari SD sampai SMU diprioritaskan mata ajaran dasar sebagai berikut: 1. Penguasaan Bahasa, 2. Berbicara yang baik dan runtun, 3. Membaca buku dan menuliskan intinya. 4. Menulis dengan menggunakan bahasa yang baik dan benar. Baru setelah itu disusul mata ajaran berhitung (arithmatic bukan mathematic) Mathematic baru dimulai di SMP. Di SMP mathematic-nya terdiri dari aljabar dan planimetri. Sedangkan di SMU selain mengembangkan mata ajaran mathematic yang didapat di SMP ditambah goniometri dan stereometri. Mata ajaran yang ke-empat meliputi lingkungan hidup dan kehidupan lingkungan. Diantaranya ilmu alam, ilmu tumbuh-tumbuhan, ilmu hewan ditambah ilmu bumi serta sejarah. Dewasa ini banyak para kawula muda bahkan orang dewasa yang tidak tahu letak kota Malino. Meskipun kota Malino pernah menjadi kota pusat Pemerintah Negara Indonesia Timur. Bahkan untuk mempopulerkan kota tersebut Pemerintah NICA membuat bea-siswa bagi para pemuda untuk belajar di Nederland dengan nama MALINO-BEURS atau BEASISWA MALINO. Empat mata ajaran pertama saya anggap penting. Mengapa penguasaan bahasa perlu dipelajari secara cermat dan benar? Bahasa merupakan alat komunikasi antar manusia. Sampai sekarang kalau saya amati bahasa yang digunakan para kawula muda sudah “aburadul”. Menulis skripsi dengan bahasa yang benar dan baik sudah sulit. Dulu di TVRI Prof. Anton Moeliono selalu mengantarkan bahasa Indonesia yang baik dan benar. Enak didengar dan mudah dimengerti. Dewasa ini rubrik Bahasa ini sudah ditelan oleh Sinetron yang menggunakan “bahasa Indonesia-nya sendiri”. Perhatikan bahasa di senetron yang lain dengan bahasa Indonesia yang baik dan benar. Bukan hanya bahasa Indonesia juga bahasa lainnya, seperti bahasa Inggris yang di“rebuild” oleh “orang Indonesia”. Maka pelajaran penguasaan bahasa penting diajarkan secara benar dan baik, agar bahasa Indonesia terpelihara baik. Juga bahasa asing perlu diajarkan secara benar dan baik. Mata ajaran kedua adalah belajar berbicara dengan bahasa yang baik dan runtun. Kadang-kadang sulit saya mengartikan apa yang diutarakan oleh seorang kawula muda secara oral. Kata-kata yang digunakan campur aduk antara bahasa Indonesia dan bahasa “prokem”. Kalau saya beritahu, jawabnya yang digunakan bahasa “gaul”. Inilah disebabkan, karena di SD dan SMP tidak diajarkan mata ajaran “budi pekerti” sehingga berbicara dengan orang tua seenaknya saja, tanpa merasa malu atau salah. Di zaman penjajahan Belanda di Sekolah Rendah (Lagere School) diajaran budi pekerti, tata krama dan kerajinan yang mata ajarannya waktu itu dinamakan “vlijt” dan “gedrag”. Sebab tata krama dan budi pekerti merupakan senjata etika dan etiket dalam pergaulan. Dalam pergaulan dibutuhkan etiket dan tatakrama agar tidak menyakiti hati seseorang. Maka cara bicara perlu diajarakan di waktu masih muda. Mata ajaran yang ketiga ialah membaca. Dengan belajar membaca buku yang banyak, maka seorang dapat bicara secara runtun menjelaskan apa yang dimaksud. Banyak membaca akan memperkaya perbendaharaan kata. Banyak kata synonim, tetapi arti harfiahnya kadang lain. Sebagaimana contoh kata “korupsi”. Apa arti korupsi sebenarnya? Korupsi adalah menyalahgunakan wewenangnya dan menguntungkan pribadi dan teman-temannya dan merugikan keuangan negara. Apakah korupsi sama dengan “maling’? Tentunya tidak sama, karena sebelum ada korupsi sudah ada maling. Efeknya sama merugikan orang atau instansi. Kalau maling ditangani polisi di negara manapun. Karena maling menguntungkan diri sendiri dan keluarga bukan menguntungkan teman, bahkan bisa merugikan teman. Korupsi di Indonesia ditangani KPK. Tetapi kalau maling meskipun jumlahnya milyaran rupiah seharusnya ditangani polisi. Jadi yang saya maksud meskipun maling merugikan milyaran rupiah ia bukan koruptor. Maka banyak membaca itu perlu, jadi perpustakaan SD, SMP dan SMU perlu dikembangakan. Mata ajaran yang ke-empat adalah menulis. Para kawula muda, bahkan mungkin para pejabat tulisannya tidak bisa dibaca. Seakan-akan tulisannya seperti resep dokter yang hanya bisa dibaca oleh apoteker. Di SD dewasa ini dengan kemajuan teknologi para siswa diizinkan menulis dengan ballpoint. Saya setuju saja, asal tulisnnya dapat dibaca secara baik. Dewasa ini memang sudah tidak dibuat pena tulis dengan tinta. Tetapi para pengasuh atau guru bisa mengajari cara memegang ballpoint agar tulisannya menjadi baik. Nah setelah empat mata ajaran yang primair ini dikuasainya diajarakan berhitung karena dalam kehidupan sehari tidak lepas dari berhitung. Mau beli sesuatu dihitung, mau pergi ke suatu tempat dihitung, maka masak dihitung. Lima mata ajaran inilah yang perlu distandarkan. Kita semua tahu, bahwa jarak dari Sabang sampai Merauke itu jauhnya seperti London sampai Teheran. Diantara jarak sejauh itu di Indonesia tentunya terdapat puluhan bahasa, puluhan budaya, puluhan kebiasaan dan macam-macam yang tidak seragam. Saya kira 99% siswa SD di Papua belum pernah melihat alat trans-portasi yang dinamakan kereta api. Mungkin 15% atau lebih gurunya juga belum pernah naik kereta api. Mereka melihat dari TV atau gambar. Nah bagaimana kita mau menyamakan standar dasar lulusan sekolah dasar Indonesia yang luasnya lebih besar dari Eropa. Negara Eropa yang rakyatnya pinter, pemimpinya pinter, masyarakatnya makmur sejahtera baru bisa menyatukan standar fiskal menjadi EURO. Orang kawula muda Jerman saya kira tidak akan tahu, bahkan mungkin tidak perlu tahu cara hidup para kawula muda di bekas negara Yugoslavia. Padahal jaraknya kurang dari 3000 km. Apa kawula muda Papua harus bisa mengikuti cara hidup para kawla muda Jakarta yang jaraknya 5000 km? Indonesia yang masih diganggu oleh korupsi, pembagian rezeki belum merata mau membuat standar dasar pengetahuan bagi para kawula muda seluruh Indonesia. Seperti saya jelaskan saya pribadi setuju. Kalau memang mau kesana saya usul dilakukan bertahap. Misalnya tahun depan 2008 untuk 3 tahun lamanya dilakukan “ujian kabupaten” bersama. Jadi di Indonesia ada 300 kabupaten lebih maka di adakan 300 macam ujian. Selama 3 tahun dievaluer berhasil atau tidak? Kalau berhasil mungkin dengan beberapa perbaikan dilakukan peningkatan ke “ujian provinsi” bersama selama 3 tahun. Lalu disevaluer lagi. Kalau berhasil, maka dilakukan peningkatan ke “ujian kepulaun” bersama selama 3 tahun. Baru setelah dievuler ujian kepulauan ini baik selama 3 tahun lalu diadakan “ujian nasional” bersama. Kita tidak perlu bernafsu tergesa-tergesa membuat standar pengetahuan bagi para kawula muda. Analogi pemimpin negara kita sudah 62 tahun merdeka dengan banyak hutang dan anggaran APBN dan APBD juga belum bisa membuat standar minimum “basic need” untuk hidup di Indonesa. Itupun hanya menyediakan kecukupan barang yang reel, pangan, sandang, papan, karya, dan aman. Apalagi mau membuat standar dasar pengetahuan yang abstract, mengatasi kebodohan. Ini dibutuhkan waktu lama dan sistem yang dijalankan secara konsisten dan tiap orang yang mengaku pempimpin harus komitet mencerdaskan bangsa. Karena mencerdaskan bangsa ini abstract sekali. Hambatan atau rintangan yang besar akan dihadapinya kalau suatu waktu timbul aturan yang tidak disengaja “membodohkan” bangsa. Karena kebodohan itu sangat berlawanan dengan kecerdasan. Semoga tulisan saya memberikan sedikit sentilan bagi mereka yang peka ingin mencerdaskan bangsa. Penulis adalah Guru Besar FTUI Mantan Cdt Onderdistrik Militer Kecamatan Grabag Waktu Gerilya 1948-1950

Pengalaman hidup dengan UUD-1945 murni

Pengalaman hidup dengan UUD-1945 murni

                            Oleh: Nakoela Soenarta

 

Membaca uraian Saudara John Pieris di Suara Pembaharuan hari Rabu 26 Juli 2006 dengan judul: UUD-1945 Bukan Berhala terbayanglah pada saya, waktu saya dengan rekan-rekan pemuda pada tahun 1945 bertempur berjoang mempertahankan negara baru yang dinamakan Negara Kesatuan Republik Indonesia. Dewasa ini  banyak rekan-rekan saya tadi sudah meninggal. Pada umumnya yang meninggal di Jakarta di makamkan di Taman Makam Pahlawan Nasional Kalibata. Dalam sumpah kita dahulu diantaranya: Mempertahankan kemerdekaan Negara Kesatuan Republik Indonesia berdasarkan UUD-1945 dan Pancasila. Secara jujur dan moralis maka kita tidak boleh mengingkari sumpah. Dan kalau para pejabat ingat akan sumpahnya waktu diangkat memangku jabatannya, maka tidak akan ada korupsi.

 

Memang saya setuju UUD-1945 bukan berhala. UUD pada umunya hanya- lah aturan yang kita sepakati bersama. Bahkan UUD-1945 NKRI dapat dikatakan UUD sementara. Saya salut kepada para pendiri NKRI yang dalam bulan Ramadhan dalam satu hari, hari Sabtu dapat menyusun UUD dan memilih Presiden dan Wakil Presiden. Para pendiri NKRI terdiri dari bermacam suku bangsa Indonesia dan bermacam partai. Tetapi mereka berpedoman seperti mantan Perdana Menteri Inggris Disraeli: My loyalty to my party ends, when my loyalty to my country begins. Rasa egoistis dan memperkaya diri tidak ada pada para founders dari NKRI.

 

Bahkan menentukan nama-nama istilah struktur pemerintahan mengikuti aturan yang digunakan oleh Pemerintah Belanda menjajah Indonesia. Yang seharusnya nama strukturnya Kementerian atau Secretary kalau di Amerika di NKRI namanya Departemen. Di beberapa negara saya tidak mengenal Kementerian Sosial dan Kementerian Agama, tetapi di zaman penjajahan Belanda ada Departemen van Soziale Zaken dan Departemen van Onderwijs en Eredienst. Maka NKRI, juga punya departemen ini. Masih banyak lagi yang ditiru dari Belanda maupun Jepang. Upacara menaikkan bendera zaman Belanda tidak ada. Waktu Jepang diajarkan upacara menaikkan ben-dera dan mengheningkan cipta. Zaman penjajahan Belanda kalau Residen atau Bupati datang tiada hadirin yang berdiri, tetapi zaman Jepang diajari kalau gurupun datang harus berdiri menghormati. Yang ini bagi guru sudah tabu. Tetapi kalau ada pejabat datang hadirin dipersilahkan berdiri.

 

Sekarang kembali ke UUD-1945 yang bukan berhala. Kalau diteliti secara njlimet memang di UUD-1945 kekuasaan Presiden sangat kuat. Presiden bisa membuat UU dan Perpu. DPR hampir dijadikan tukang stempel. Sebetulnya hal ini tergantung pribadi masing-masing pejabat yang memegang kekuasaan. Juga ada pasal yang menyatakan Presiden boleh dipilih kembali. Masih banyak kekurangannya.

 

Tetapi kalau kita mau jujur. MPR adalah Instansi Tertinggi, bahkan lebih tinggi dari Presiden, Mahkamah Agung dan DPR. Juga MPR menentukan GBHN yang mengarahkan kerja pemerintah dalam 5 tahun. Setelah ada 4 kali amandemen makan MPR yang saya maksud hilang juga GBHN. Mungkin para founder NKRI waktu membicarakan ini masih terbayang bah-wa rakyat yang buta huruf masih lebih dari 60%, sehingga perlu dipimpin, agar tidak ngawur kalau langsung menggunakan jembatan demokrasi. Gene-rasi sekarang bisa membandingkan USA yang demokratis, tetapi yang rak-yatnya well educated. Saya setuju 100% bahwa di UUD yang baru anggaran pendidikan 20% dari APBN. Tapi bisa dijalankan? Padahal ini tertera black on white. MPR sekarang tidak bisa menegor, karena bukan lembaga tertinggi negara lagi.

 

Mengapa para elite politik pada waktu itu langsung mengadakan amande-men alias perubahan kok bukan addendum alias tambahan atau penjelasan.

 

Sekarang tanpa GBHN apa rakyat Indonesia bisa melihat benchmarking dari pemerintah kita? Sekarang tanpa MPR yang menjadi instansi tertinggi apakah perselisihan antara MA dan MY ada yang mampu atau bisa menye-lesaikan?

 

Kalau saya boleh jujur sebetulnya sebagian besar rakyat kita itu sampai sekarang juga belum atau tidak menikmati demokrasi. Yang menikmati hanya mereka yang tahu dan dapat memanfaatkannya. Rakyat kita itu yang dibutuhkan, makan, sandang, papan, karya dan keselamatan serta keamanan. Ditambah pendidikan.

 

Kalau tidak salah Inggris itu tidak punya UUD. Di negara manapun UUD bisa diubah, tidak perlu di dramatisir, hanya perubahan itu harus menuju ke-pada perbaikan hidup rakyat bukan didasari ambisi dan dengki. Sejak tahun 1945 sampai Desember 1949 di Indonesia berlaku UUD-1945. Dengan pe-doman itu kita para pemuda tidak pandang bulu bersatu mempertahankan kemerdekaan NKRI. Sejak Desember 1949 sampai 17 Agustus 1950 UUD Negara Indonesia Serikat. Sejak 17 Agustus 1950 sampai 5 Juli 1959 NKRI dengan UUD sementara. Karena timbul beberapa pemberontakan dan Kon-stituante tidak bisa menyelesaikan tugasnya membuat UUD baru, maka Presiden mengeluarkan Dekrit Kembali ke UUD-1945. Sejak tahun itu sam-pai 2002, jadi 45 tahun lamanya diperlakukan UUD-1945. Sebetulnya yang salah bukan UUD-1945. Yang salah para elite yang mempertahankan kedua orang Presiden berfungsi lebih dari 10 tahun, karena mempunyai kepenting-an. Power tends to corrupt.

 

Dengan UUD-2002 yang menurut para elite politik dewasa ini sudah baik, tetapi kalau SDM yang menjalankannya tidak benar saya kira akhirnya nanti akan di-amandemen atau kembali ke UUD-1945 oleh generasi berikutnya.

 

Kemerdekaan dan demokrasi itu bukan tujuan hanya alat atau jembatan menuju masyarakat adil, makmur, selamat, aman dan sejahtera.

 

Semoga di hari tua saya masih bisa melihat keadilan dan kemakmuran bangsa Indonesia yang kemerdekaannya diproklamasikan 17 Agustus 1945.

 Penulis adalahGuru Besar DTM-FTUI & FTUPMantan Pelajar Pejoang CM Yogyakarta   

Masalah barang palsu di Indonesia

Masalah barang palsu di Indonesia

Oleh: Nakoela Soenarta

  

Sebelum saya menulis “epistel” saya ini, perlu saya menujukkan identitas saya. Saya adalah mantan anggota TKR (Tentara Keamanan Rakyat) dilanjutkan ke TKR (Tentara Keselamatan Rakyat) dilanjutkan lagi ke TRI (Tentara Republik Indonesia) dan diteruskan sampai mendapat pensiun dari TNI (Tentara Nasional Indonesia) pada tahun 1975 setelah menjalani MPP pada tahun 1973. Dewasa ini profesi saya adalah sebagai Guru Besar di FTUI Departemen Teknik Mesin, juga di ISTN dan Universitas Pancasila.

 

Sejak UUD-1945 di-“amandemen” atau diperbaiki pada tahun 2002, maka UUD-2002 tidak mempunyai kegiatan GBHN seperti UUD-1945. Menurut saya yang bukan akhli politik, tetapi mengikuti perkembangan berdirinya NKRI. Sejak Perdana Menteri KOISO menyanggupi “memberikan” kemerdekaan kepada bangsa Indonesia pada akhir tahun 1944. Mengikuti perkembangan Dokoritsu Jumbi Tjosakai, seyogyanya para politikus kita tidak tergesa-gesa memperbaiki (“mengamandemen”) UUD-1945. Cukup UUD-1945 itu ditambah atau di-“addendum” dengan beberapa UU untuk tambahan penjelasan dari UUD-1945. Seperti Fatsal 8 bahwa seorang Presiden boleh dipilih lagi dan harus seorang asli. Misalnya dipilih lagi hanya boleh menjabat dua kali periode. Kalau tidak salah yang dimaksud  dengan seorang asli itu jangan sampai nanti ada seorang NIPPON (Jepang) yang menjadi Presiden. Pepatah Indonesia mengatakan NASI SUDAH MENJADI BUBUR. Tidak mengapa asal jadi bubur ayam yang lebih enak dari nasi basi.

 

Dengan tiadanya GBHN, maka Rakyat Indonesia tidak bisa melihat BENCMARKING kegiatan Pemerintah dalam jangka pendek, menengah dan panjang, karena tidak bisa membaca Repelitanya. Bulan-bulan akhir ini saya pribadi mengamati sibuknya beberapa para menteri yang menangani hal negatif yang timbul di masyarakat. Bahkan sampai-sampai Presiden turun tangan. Misalnya: Kasus polio yang timbul pertama diketahui di Sukabumi, penyakit flu burung, sampai para menteri demonstrasi makan ayam, busung lapar alias beri-beri karena kekurangan vitamine B, naiknya harga bbm internasional melebihi $60/barrel, sampai Presiden minta penghematan energi listrik dan TV serta Radio harus memberhentikan siarannya pada jam 00-00 sampai jam 05-00. Yang terakhir naiknya nilai dollar USA terhadap Rupiah atau turunnya nilai Rupiah terhadap dollar USA. Di media massa ada yang menulis disebabkan harga bbm naik. Apa di negara lain sejak harga bbm naik nilai valuta uangnya turun? Kalau yang merosot nilai uangnya hanya Rupiah, perlu kita bertanya: What is wrong with us?

 

Maka founders dari NKRI menyatakan pada Pembukaan UUD-1945 pada alinea ke-tiga: mencerdaskan kehidupan bangsa. BANGSA Indonesia harus cerdas, pendidikan secara umum harus ditingkatkan dan DIPAKSAKAN dengan anggaran yang memadai agar rakyat NKRI lekas menjadi cerdas.

 

Dulu para negative thinkers ingin lekas makmur, lekas kaya dan sebagainya. Dewasa ini sudah masuk ke dunia ilmu pengetahuan alias akademisi. Dulu orang mau kelihatan penampilan keren pakai jam Rolex-palsu, pakai hemd Arrow-palsu, lebih nekat lagi karena tidak punya duit maka membuat uang-palsu (Rupiah maupun Dollar). Dan tidak tanggung-tanggung, karena di Indonesia tiap tukang jahit diperbolehkan menjahit seragam tentara atau polisi, maka agar seorang pemuda dapat tampil keren dimuka calon mertua beli seragam tentara atau polisi dan menghadap si calon mertua sebagai perwira-palsu. Ternyata yang menjalar di Indonesia bukan yang berupa perangkat keras seperti yang saya sebutkan. Banyak manusia yang mengobral janji-palsu bahkan dimuka hakimpun berani mengucapkan sumpah-palsu.

 

Diantara barang-barang palsu tersebut ada juga yang sengaja dipalsukan, ka-rena dapat menolong hidupny seseorang. Misalnya: gigi-palsu, tangan-palsu dan kaki-palsu.

 

Kepalsuan yang saya sebutkan diatas ini memang gampang dilacak atau ditindaklanjuti. Yang agak sulit adalah menindaklajuti gelar palsu. Ada seorang yang mendapatkan gelar sarjana beneran, tetapi ternyata kualitas dan kemampuannya kurang. Seorang bisa diluluskan dari ujian Comprehensive Sarjana kalau IPK-nya >2,0. Ini peraturan dari Pemerintah, tetapi Pemerintah tidak akan menerima lulusan dengan IPK <2,75. Padahal belum tentu yang nilai IPK-nya <2,75 tidak mampu. Dan belum tentu yang nilai >2,75 dalam masyarakat lebih pinter dibandingkan yang nilai IPKnya hanya 2,0.

 

Dari uraian saya yang summier ini, maka banyak orang yang lebih mendam-bakan gelar dengan kertas ijazahnya dibandingkan mendalami ilmu yang dipelajarinya.Maka timbul lembaga-lembaga yang menawarkan gampang kuliahanya bisa cepat lulusnya, bahkan yang extreme tidak perlu kuliah akan di-“nilai” secara khusus untuk mendapatkan ijazah yang dikehendakinya.

 

Sebagai pribadi saya tahun 2003 pernah ditawari melalui surat edaran untuk dikukuhkan sebagai “guru besar” karena oleh suatu panitya saya dinilai layak dikikukuhkan sebagai “guru besar” dengan membayar “hanya” IDR 10 juta. Mungkin informasi yang didapat oleh lembaga tersebut tidak up to date lagi dan mengira saya gila gelar dan belum jadi guru besar. Maka surat edaran tadi saya anggap sebagai surat kaleng dan saya simpan di keranjang sampah. Padahal sejak tahun 80-an saya sudah dukukuhkan sebagai guru besar di Universitas Indonesia dalam ilmu teknik mesin.

 

Pernah ada 2 (dua) orang yang bergelar “doktor” ingin membantu mengajar. Saya sambut antusias sekali karena disiplin ilmunya sama dengan saya dan menyatakan lulus dari USA. Yang saya minta adalah fotokopi dari ijazahnya agar dapat saya check ke Ditjen Dikti. Di Dikti dapat saya tanyakan dan saya baca apakah perguruan dari luar negeri tadi dapat pengakuan oleh Ditjen Dikti, karena di Ditjen tersebut terdapat buku yang memuat universitas yang diakui kualitas dan komptensinya oleh NKRI. Ternyata kedua orang yang telah menyanggupi membantu saya tidak kelihatan batang hidungnya lagi. Mungkin kalau yang bersangkutan tidak menyatakan sebagai doktor bisa juga saya terima sebagai tenaga akhli teknik, karena dari dialog mereka menguasai bidangnya. Seharusnya untuk menjaga mutu akan gelar dan jabatan akademis seyogyanya Pemerintah harus memberikan pedoman yang standar yang baku tidak perlu untuk semua lulusan dan jabatan akademis.

Sebagai misal: Apakah tugas seorang Profesor dan seorang Lektor Kepala? Apakah yang harus dikuasai oleh seoraang Doktor dan seorang Magister.

 

Misalnya seorang yang diangkat sebagai Profesor harus dalam waktu 2 tahun dapat mulai membimbing seorang Magister menjadi seorang Doktor. Dengan menjadi promotor seorang profesor mengembangkan ilmunya dan memupuk kebiasaan mengadakan penelitian. Karena disertasi yang dibuat oleh kandidat doktor adalah hasil penelitian. Hasil penelitiannya setelah dikembangkan dapat disumbangkan pada kemajuan bangsa. Kalau seorang Profesor dalam waktu 2 tahun tidak dapat mulai menjadi promotor seorang kandidat doktor, maka perlu diragukan kemampuan penelitian ilmunya. Maka yang bersangkutan harus mau menanggalkan jabatan akademisnya. Untuk apa menjabat profesor tetapi tidak mengembangkan ilmunya. Kalau hanya untuk mengajar atau menduduki pos struktural tidak perlu jabatan akademis profesor. Kalau tidak menanggalkan jabatan akademis profesornya, maka profesor ini tidak palsu, tetapi aspal atau asli tapi palsu, karena tidak bisa menjalankan fungsinya sebagai seorang promotor. Kalau standar jabatan ini diberlakukan saya kira seorang lektor kepala akan berfikir cermat sekali untuk menerima jabatan akademis profesor. Standar seorang dengan jabatan akademis Lektor Kepala harus mampu membimbing seorang Sarjana menjadi Magister. Kalau dalam waktu 3 tahun tidak membimbing thesis seorang magister, maka ia harus menanggalkan jabatan Lektor Kepalanya. Dengan demikian maka mutu perguruan tinggi akan terjamin dan ilmu yang diajarkan dapat secara kompetetif bersaing dan berkembang. Karena yang menjabat profesor sudah pernah membimbing thesis. Biasanya suatu thesis adalah bagian dari  disertasi. Jadi seorang profesor seharusnya adalah peneliti. Bukan embel-embel profesor didepan namaya hanya jadi pameran atau memperpanjang namanya. Jadi di Departemen Pendidikan Nasional gerak-gerik seorang profesor selalu dipantau.

 

Seorang bisa mendapatkan gelar doktor kalau dapat lulus dari ujian disertasi yang dipromotori oleh seorang profesor, sedang seorang yang mendapatkan gelar doktor honores causa atau doktor kehormatan harus didasarkan atas penelitian senat akan kemampuan dan jasa yang bersangkutan dalam mengembangkan atau mengabdikan ilmu yang dikuasainya. Ini ditunjukkan dengan orasi yang dibacakan dimuka sidang senat. Jadi ada dokumentasinya yang di kemudian hari dapat diperdebatakan atau didialogkan lagi. Dengan demikian ilmu-ilmu tersebut dapat berkembang.

 

Dengan diadakan standar atau rambu-rambu melalui PP, maka tiap lembaga akan berfikir untuk sekedar memberikan jabatan akademis profesor dan memberikan gelar doktor atau magister. Karena masyarakat yang berhubungan dengan mereka yang mengaku profesor akan ditanya, kapan dikukuhkan jadi profesor, berapa doktor yang telah dipromosikan. Untuk yang mendapat gelar doktor akan ditanya, mana disertasinya, apa isinya, siapa promotornya.

 

Bagi yang pernah menerima gelar doktor-palsu dan jabatan akademis profesor-palsu akan agak sulit menuntut kepada  lembaga yang memberinya. Apa si penerima setelah sekian tahun menyandang gelar tersebut merasa dirugikan? Kalau dirugikan mengapa dahulu membabi buta menerimanya. Kan bisa dipertimbangkan, si penerima tentunya seorang terpelajar bisa berfikir secara logis. Kalau gelar atau jabatan akademisnya hanya berlaku untuk memperpanjang nama memang tidak ada salahnya. Tetapi kalau gelar itu digunakan untuk melamar pekerjaan seperti yang saya uraikan diatas akan menjadi permasalahan. Karena kalau saya yang menerima akan saya konfirmasikan ke Ditjen Dikti. Memang kadang-kadang gelar meskipun resmi dan aseli tidak menjamin kualitas seorang pemegang gelar. Pada tahun 1983 saya mempunyai pengalaman mendapatkan bantuan seorang Drs (Sipil) lulusan IKIP dan Ir (Sipil) lulusan suatu FT di luar Jakarta. Dari pekerjaan yang saya berikan maka lulusan IKIP yang seharusnya menjadi guru berhasil jauh lebih baik dibandingkan yang insinyur. Ternyata yang Drs Sipil, karena akan mengajara, maka ilmunya didalaminya, sehingga waktu turut proyek saya yang bersangkutan dapat berhasil lebih dari pada yang insinyur.

 

Bersama ini saya anjurkan kepada mereka yang pernah mendapat GELAR PALSU, janganlah memanfaatkan gelar tersebut, karena dengan memanfaat-kannya kalau ketahuan umum Anda akan dicemoohkan. Percayalah pada kemampuan diri Anda, karena tentunya Anda mempunyai jam terbang yang lebih banyak dari pada umumnya rakyat Indonesia. Dengan jam terbang dan kemampuan serta kompetensi Anda tanpa gelar palsunya saya percaya Anda akan lebih sukses  dihargai oleh rakyat Indonesia. Guru saya seorang Belanda di tahun 1938 pernah berkata: TITEL ZONDER HERZENS IS NIETS artinya GELAR TANPA OTAK TIADA ARTINYA. Karena guru saya ingin kita belajar baik dan tidak mendambakan gelar.

  

 

Pengalaman Meninjau Benua Kangguru

Pada awal tahun 80-an saya  mendapat undangan untuk hadir pada konferensi internasional tentang automotive di kota Melbourne. Kali ini untuk kesekian kalinya saya meninjau benua kangguru. Waktu pertama kali, saya pergi ke Australia bersama rombongan. Tetapi kali ini saya tidak mengikuti rombongan, saya pergi bersama isteri dan nanti di Melbourne saja ketemu dengan rombongan karena saya ingin juga mampir di Sydney beberapa hari.Semua pengurusan perjalanan saya urus sendiri. Mulai mencari visa dan ticket. Kali ini saya menggunakan Garuda, biasanya saya menggunakan Qantas. Agar nanti saya di Australia tidak mendapatkan kesulitan, maka kamar hotel di Melbourne dan Sydney saya urus di Jakarta. Seperti biasa di Melbourne saya memilih Hotel Regent. Tetapi di Sydney saya belum tahu hotelnya. Saya minta kepada seorang ibu yang mengurus perjalanan agar mencarikan hotel bagi saya di daerah King-Cross. Ibu tadi kaget dan bertanya apa saya pernah ke Sydney. Saya jawab belum tetapi dari tulisan saya tahu kalau daerah King-Cross adalah daerak hitam dan merah. Ketawalah Ibu itu. Dan hanya menja-wab: Ya sudah kalau Bapak Nakoela tahu mana yang dituju. Maka saya diberikan nama hotel King.

Pokok setelah konferensi di Melbourne saya dan istri menggunakan pesawat terbang menuju ke Sydney. Bener juga daerah itu adalah daerah hitam dan merah. Waktu mau berangkat ke Sydney beberapa teman ingin juga ke Sydney dan pesan agar dicarikan kamar di hotel saya. Agar jangan kecewa saya beritahukan, bahwa daerah hotel saya adalah daerah hitam dan merah. Mereka setuju maka saya carikan kamar. Kebetulan ada kamar yang masih kosong.

Waktu sampai di hotel langsung saya menilpun seorang teman yang belajar di Sydney. Ia bertanya kepada saya, dimana saya menginap. Saya beritahukan di hotel King. Percakapan agak hening lalu ia berkata: Mas daerah itu kan daerah hitam dan merah. Apa mas Nakoela tahu. Saya jawab memang saya sengaja menginap disini dengan isteri saya untuk melihat kehidupan hitam merah. Ia tertawa terbahakbahak. Syukurlah kalau mas Nakoela tahu, kalau tidak tahu saya carikan hotel di tengah kota. Saya jawab terima kasih tidak perlu, pokok saya lapor, saya di Sydney.

Pengalaman pertama berjalan dengan isteri seperti waktu pacaran saja. Ternyata kiri-kanan jalan adalah “etalage” terbuka dari gadis-gadis yang yang berpakaian minim dan menawarkan “daging mentah”. Di muka nightclub para calo menawarkan show in natura. Masih banyak lagi. Perikehidupan yang saya lihat di Sydney ini agaknya memang hidup alamiah sejak jaman Sodom dan Gomoroh waktu Lot diminta meninggalkan kedua kota tersebut. Kehidupan sosial yang sulit diberantas, tetapi apa bisa dikurangi? Bagai-mana di Indonesia?

Pagi hari ditaman hotel saya sarapan. Untuk makan sarapan yang enteng maka isteri saya minta sandwich. Saya juga begitu. Orang Australia yang duduk di dekat kita agak kaget, bahwa kita pesan sandwich 2 (dua) buah. Ternyata tunggu punya tunggu hampir 0.5 jam obernya membawa dua “sandwich”. Satu porsi sandwich ternyata terdiri dari:

1.   Sebuah roti sepanjang 30 cm di belah

2.   Isi 4 lapis keju dan 2 lapis ham

3.   Dua buah telor mata sapi setengah matang

4.   Salad satu mangkok dengan tomat dan timun.

5.   Satu piring kentang goreng

Ternyata kita berdua cukup makan satu porsi sudah cukup dan sisanya dibungkus untuk makan malam.

Siang harinya rekan-rekan datang dari Melbourne.

Sewaktu kita berenam berjalan saya dengan lagak serius berkata, bahwa di Australia terutama di Sydney daging mentah murah. Ternyata seorang isteri teman saya dengan lugasnya bertanya dimana bisa beli daging mentah yang murah. Kita berlima ketawa, karena saya jawab ya kalau suamimu mau daging mentah, kalau tidak mau bagaimana? Saya tunjukkan dikiri jalan para gadis di siang bolong memamerkan pupu dan pusatnya tanpa ada risi.

Kebetulan sekali waktu pulang dengan Garuda Boeing 747 yang menjadi Copilot kemanakan saya Karyadi. Kita diajak duduk di cockpit. Ruang cockpit B-747 lebih luas dibanding DC-10. Waktu saya masuk ke cockpit Captain pilotnya menyapa saya. Apa Pak Nakoela masih ingat saya. Saya sudah lupa, maka ia berkata: Kalau pada tahun 1969 Bapak meluluskan saya Motor Bakar saya tidak menerbangkan Bapak. Maka ia ceritera, bahwa 2 kali ujian motor bakar pada saya tidak lulus lalu pindah ke Curuk dan sekarang sudah manggul balok 4 sebagai captain pilot. Saya jawab, memang tidak saya luluskan agar saya bisa terbang di cockpit Garuda. Memang rezeki orang ditangan Tuhan. Kalau yang bersangkutan dahulu lulus motor bakar dari saya mungkin malah jadi penganggur, karena sarjana yang menganggur dewasa ini ada 4 juta orang.

Terima kasih atas perhatian Anda.



Follow

Get every new post delivered to your Inbox.